*Pidato Ketua Umum PSI Grace Natalie di Festival 11, JIExpo Kemayoran, 11 April 2019

Selamat malam Jakarta

Selamat malam Indonesia

Terima kasih. Selamat datang di puncak Festival 11 PSI, kepada seluruh pengurus, caleg, dan kader PSI yang hadir di sini, atau menyimak melalui siaran langsung di sosial media.

Malam ini, adalah malam penting yang akan menentukan agenda perbaikan politik kita masa depan.

Saya ingin mengucapkan terima kasih dan salut kepada kalian semua anak-anak muda yang berani berkorban terjun ke politik dan bergabung bersama PSI. Kalian adalah anak-anak muda yang keluar dari zona nyaman, memenuhi panggilan sejarah untuk menyelamatkan masa depan kita semua.

Kalianlah ujung tombak sebuah misi yang sejak awal selalu dipandang sebelah mata, dianggap “mission impossible”. Tapi kalian telah melewati ujian sulit: mendirikan dan meloloskan partai ini hingga bisa ikut pemilu — yang syaratnya paling sulit di dunia.

Partai ini berdiri pada saat orang mulai kehilangan harapan pada partai dan wakil mereka di parlemen. Tapi itulah alasan kita berdiri. Kita ingin mengembalikan kepercayaan, harapan, dan kesadaran bahwa politik terlalu penting untuk ditinggalkan, bahwa kekuasaan harus diperjuangkan untuk kepentingan bersama. Bahwa perbaikan politik itu bukan sesuatu yang mustahil.

Memulihkan kepercayaan kepada politik dan demokrasi adalah upaya kita menyelamatkan masa depan bangsa ini dari ancaman terbesar persatuan kita — dari ideologi ekstrim, ideologi intoleran, ideologi yang menawarkan ilusi tentang kemuliaan tapi sesungguhnya hanya akan membawa kehancuran sebagaimana kita lihat di Irak dan Suriah.

Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa PSI berdiri di atas asas Nasionalisme, dan akan memperjuangkan prinsip-prinsip kebangsaan. Partai ini adalah antitesis terhadap partai agama yang hanya memperjuangkan kepentingan kelompoknya sendiri.

Kami ingin membendung kekuatan yang ingin mengubah wajah Indonesia. Partai Solidaritas Indonesia akan berjuang untuk mempertahankan keragaman negeri ini!

Bro and sis yang saya cintai,

Saat ini, kita bangsa Indonesia sedang berdiri di persimpangan. Kita diberi pilihan berupa dua jalan — dua skenario — Indonesia masa depan.

JALAN NOMOR SATU adalah jalan yang akan membawa kita menuju Indonesia yang demokratis, stabil, dan sejahtera. Jalan yang fondasinya sedang dipersiapkan oleh Pak Jokowi lewat pembangunan infrastruktur,l besar-besaran, dengan skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya sejak Republik berdiri.

Price Waterhouse Coopers (PWC) memprediksi pada 2050, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor empat dunia. Indonesia hanya ada di bawah RRT, India, US. Bayangkan, kemungkinan itu HANYA berjarak tigapuluh satu tahun dari sekarang.

Ini adalah skenario yang bisa terjadi dengan syarat: Indonesia tetap stabil dan demokratis.

Skenario ini bisa musnah kalau kita memilih JALAN NOMOR DUA.

Jalan nomor dua adalah jalan yang gelap — jalan penuh onak. Masa depan yang suram di mana negeri ini terperangkap oleh konflik SARA, di mana pertikaian antar kelompok tidak ada habisnya sebagaimana terjadi di Irak, Suriah, dan Afghanistan. Sebuah skenario yang sangat mungkin terjadi karena gejalanya sudah muncul di sekeliling kita.

Lembaga jajak pendapat telah memberi peringatan: masyarakat kita semakin tidak toleran. Dan situasi ini ditunggangi oleh kekuatan politik yang bersedia menggunakan berbagai cara untuk meraih kekuasaan. Kekuatan politik gelap yang dikelilingi kelompok ekstrim, kelompok intoleran.

Inilah “Unholy Alliance”, aliansi kotor antara politisi yang bersedia melakukan apa saja demi kekuasan — yang berselingkuh dengan kelompok fasis yang merasa paling suci dan benar. Kelompok yang ingin mengganti NKRI dengan ideologi lain. Inilah skenario, JALAN NOMOR DUA.

Saya ingin bertanya, di hadapan dua pilihan tadi, kita akan pilih jalan nomor berapa?

Kita pilih jalan nomor berapa?

Jalan nomor berapa?

Siapa yang akan bisa membawa kita di JALAN NOMOR SATU?

Kalau kita ingin JALAN NOMOR SATU, tak ada cara lain selain “GAS POLLL” Pak Jokowi!

Kita sudah punya Presiden yang jujur, pekerja keras, dan profesional. Negeri ini hanya perlu dorongan untuk berlari lebih cepat. Pak Jokowi perlu partner yang bersedia bekerja sama kerasnya dengan beliau, yang sama-sama masih bersih, yang sama-sama punya komitmen profesional sebagaimana beliau. PSI siap menjadi partner Presiden Jokowi 2019-2024!

Bro and Sis yang saya banggakan

Kehadiran pemain baru selalu akan membawa perubahan positif. Dalam dunia bisnis, sports, dan bidang kehidupan lain, kedatangan pemain baru akan memperbaiki mutu kompetisi. Memaksa pemain lama memperbaiki diri agar tidak kalah dalam persaingan.

Kehadiran PSI dalam perpolitikan Indonesia — harus dilihat dalam konteks itu. Dalam semangat untuk memperbaiki mutu persaingan politik.

Bro and Sis, dan semua yang menyaksikan siaran langsung pidato ini,

Usaha PSI memperbaiki mutu DPR dimulai dari proses seleksi Calon Anggota Legislatif. Kami mengundang panelis independen seperti Pak Mahfud MD, Pak Bibit Samad Riyanto, Ibu Mari Pengestu, Ibu Betty Alisjahbana, Mas Goenawan Mohamad, bang Ade Armando, Teh Neng Dara Affiah, Mbak Henny Supolo dan sejumlah tokoh nasional lainnya untuk menyeleksi caleg.

Proses seleksi itu kami siarkan LIVE di sosial media agar publik bisa ikut menilai kualitas — termasuk mengajukan keberatan jika caleg itu bermasalah.

Jika kelak terpilih, kami sudah menyiapkan sebuah mekanisme untuk mengontrol anggota dewan. Untuk memastikan mereka benar-benar bekerja bagi kepentingan publik.

Dalam kesempatan ini, izinkan saya mengajukan tawaran solusi PSI untuk mendorong transparansi DPR. APLIKASI SOLIDARITAS — inovasi PSI memanfaatkan kemajuan teknologi, memungkinkan publik ikut mengontrol kinerja angggota DPR

Lewat aplikasi ini, anggota legislatif melaporkan apa yang mereka kerjakan setiap hari. Memungkinkan konstituen memantau dan menilai kinerja para legislator. Bila tidak puas, rakyat berhak memecat mereka semudah memberi bintang satu kepada pengemudi transportasi online, yang buruk kinerja dan perilakunya.

Aplikasi ini obat agar anggota DPR tidak bolos.

Aplikasi ini booster agar anggota DPR kerja lebih keras.

Obat agar mereka tidak tidur di ruang sidang

(Simulasi Aplikasi Solidaritas di layar)

Semoga penggunaan inovasi teknologi untuk transparansi politik ini akan diikuti oleh teman-teman senior kami dari partai lain.

Bro and Sis yang sedang berjuang,

Perbaikan politik bukan sesuatu yang mustahil. Syaratnya adalah keberanian.

Ada ungkapan terkenal: kita tidak bisa melakukan hal yang sama berulang-ulang sambil mengharapkan hasil yang berbeda. Kalau ingin hasil yang berbeda, maka kita harus menempuh cara yang lain. Kalau anda ingin perbaikan DPR, maka anda harus memilih sesuatu yang baru. Partai Solidaritas Indonesia adalah satu-satunya jalan yang tersedia saat ini, bagi kita semua yang ingin melihat perubahan di parlemen.

Inilah satu-satunya kesempatan untuk melihat presiden terbaik Indonesia, bekerjasama dan ditemani anak-anak muda yang fresh, yang bersih, dan kreatif dalam memecahkan persoalan.

Bersama Pak Jokowi dan PSI, kita akan menuju Indonesia yang modern, kuat, dan maju. Bukan negara yang terbelakang karena konflik suku dan agama, yang membuat ekonomi hancur, dan anak-anak muda kehilangan harapan.

Bagi PSI — Pak Jokowi bukan petugas partai. Beliau adalah Presiden rakyat yang harus dibela serius secara politik, bukan malah dirongrong untuk meminta jabatan ini itu.

PSI tidak akan pernah menjadi PARTAI PENDUKUNG RASA OPOSISI. PSI akan menjadi partai utama pendukung Jokowi di Senayan yang terdepan menghadapi serangan, fitnah hoax, dan politisasi agama yang dibuat oposisi.

Saya ingin mempertegas pernyataan Sekjen PSI beberapa hari lalu, bahwa PSI tidak akan pernah berkoalisi dengan PKS di semua Pemilihan Umum Kepala Daerah!

Bro and Sis yang saya hormati,

Kami sudah mencoba menawarkan sebuah debat politik yang sehat, dengan menggugat posisi partai Nasionalis.

Tapi tak ada tanggapan atas pertanyaan kami:

Kenapa masih korupsi?

Kenapa mencalonkan koruptor?

Kenapa diam melihat intoleransi?

Sebaliknya pidato itu dibalas oleh berbagai hoax, yang intinya menyebut bahwa memilih PSI adalah buang-buang suara.

Saya ingin tegaskan, yang namanya buang-buang suara adalah memilih mereka yang selama ini sudah terbukti suka bolos di DPR, yang masih korupsi, yang bungkam melihat intoleransi dan diskriminasi di depan mata. Memilih mereka kembali, ITULAH SEBENARNYA YANG BUANG-BUANG SUARA.

Ada juga hoax bahwa sistem Sainte Lague akan membuat suara PSI hangus. Padahal kenyataannya, sistem ini justru menguntungkan partai baru seperti PSI karena efektif mengkonversi dukungan menjadi satu kursi parlemen.

Yang kita butuhkan pada 17 April adalah KEBERANIAN dari 194 juta rakyat Indonesia untuk mendukung sebuah ide baru bernama Partai Solidaritas Indonesia.

Kita butuh keberanian. Keberanian sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh masyarakat Solo pada Pilkada 2005, heroisme warga Jakarta di Pilkada 2012, dan keberanian rakyat Indonesia pada Pemilihan Presiden 2014.

Bayangkan, kalau dulu rakyat Solo, Jakarta, dan Indonesia tidak memberi kesempatan kepada Pak Jokowi, mungkin kita tidak akan pernah menyaksikan lahirnya presiden terbaik Indonesia sepanjang sejarah Republik!

Bro and Sis, serta seluruh rakyat Indonesia yang selama ini kecewa pada politik

PSI sadar Golput lahir karena kekecewaan terhadap politik. Terhadap partai yang selama ini abai. Bagi PSI suara Golput penting dan berharga karena itu adalah sebuah cermin. Cara kita berkaca untuk menilai kekurangan yang ada pada diri kita. Konon, lawan debat adalah teman terbaik dalam berpikir.

Kami tentu saja masih berharap kalian berubah pikiran. Tapi, seandainya pun tidak, kami akan tetap memperhitungkan dan mendengarkan suara kalian. Jika kelak lolos ke DPR, kami ingin bekerjasama dengan dengan kalian untuk menjawab keresahan bersama kita.

Bro and Sis yang berjuang memperbaiki keadaan,

Kita tidak boleh kehilangan harapan pada politik. Memang tidak semuanya bisa memenuhi ekspektasi, tapi bukankah Demokrasi menyediakan instrumen untuk menghukum atau memberi reward — lewat pemilihan umum. Jika kecewa pada pilihan anda yang lama, jangan pilih lagi! Beri kesempatan kepada yang baru, beri kesempatan kepada PSI!

Kita punya kesempatan merebut masa depan: sekarang atau tidak sama sekali!

Saat ini kita sedang bertarung melawan Goliath. Partai ini — PSI — BUKAN Daud. Kami hanyalah batu kecilnya. Rakyat Indonesia-lah Daud-nya. Apakah batu kecil ini akan mampu menumbangkan Goliath? Tergantung apakah rakyat Indonesia, mau melemparkan batu kecil ini untuk menumbangkan Goliath. Pakailah kami sebagai alat anda untuk menumbangkan praktik politik lama, yang selama ini menyandera kita semua.

Partai ini hanya butuh 7 juta dari total 194 juta pemilih — untuk lolos DPR. Saya percaya akal sehat itu masih ada.

Saya meminta dengan sangat, dukungan anda semua — rakyat Indonesia.

Pada tanggal 17 April nanti, kita akan bangun pagi. Pakai baju putih terbaik kalian, dandan yang kece, dan sambil bercermin bilang: kita akan merebut masa depan!

Mana Solidaritasmu? Aku PSI

PSI? Menang

PSI? Menang

PSI? Menang, Menang, Menang

Salam Solidaritas, selamat malam!


Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo makin memperlihatkan kematangan seorang pemimpin dan negarawan saat melakoni debat keempat Pilpres 2019 di Hotel Shangri-la, Jakarta, Sabtu (30/3) malam. Di ajang debat yang membahas masalah ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional, Jokowi mampu beradu gagasan dengan Prabowo Subianto.

Padahal sebelum debat dimulai, beberapa pengamat menilai materi debat IV akan lebih dikuasai Capres 02 yang punya latar belakang militer. Namun, dalam berbagai adu argumen dan program kerja, terlihat dengan jelas bahwa Jokowi lebih fasih saat menerangkan dengan rinci empat masalah yang dibahas.

“Saya menilai, Jokowi sangat tenang sekali dan menguasai materi debat seri empat itu. Ia mampu mementahkan segala argumentasi Prabowo, dengan menunjukkan hasil kerja. Bahkan, dengan istilah yang kekinian, Dilan, atau Digital Melayani, Jokowi menunjukkan ketenangan saat debat berlangsung,” ujar Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir usai menonton Debat IV yang disiarkan langsung stasiun televisi.

Erick menambahkan, ketenangan yang diperlihatkan Jokowi tak hanya saat melontarkan istilah-istilah yang cerdas, seperti Dilan, E-Procurement, E-Government, atau E-Budgeting, tapi Jokowi juga menonjolkan sikap kearifan dan negarawan saat memberikan contoh kepada Prabowo. “Waktu Prabowo mengeluh soal dirinya dituduh, Jokowi dengan tenang bilang, “saya juga sering dituduh, pak, tapi tenang saja”. Saya salut karena sikap negawaran Jokowi semakin terlihat,” ungkapnya.

Kepiawaian Jokowi, dinilai Erick, juga diperlihatkan saat membahas mengenai masalah pertahanan dan keamanan. Di bidang yang sebenarnya dikuasai Prabowo, malah berlangsung sebaliknya. Jokowi lebih mahir dalam menjelaskan bagaimana sistem pertahanan dan keamanan dibangun.

“Jokowi sangat tenang, tidak emosi, dan matang sekali. Kalimat, “Pak Prabowo tidak percaya dengan TNI kita,”, merupakan pernyataan yang cukup menohok dan tegas. Apalagi, Jokowi bercerita bahwa dirinya melihat langsung ke perbatasan di Natuna atau Sorong. Penjelasan soal investasi alutsista TNI dalam industri militer, termasuk juga dalam menghadapi perang terbuka dan tehnologi, sangat cerdas untuk pengalihan tehnologi,” tambah Erick.

Penjelasan Jokowi mengenai pendekatan Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif, dinilai Erick juga sangat prima. Menurutnya, dengan menggunakan pendekatan sebagai negara yang mayoritas muslim, Jokowi mampu menjelaskan usaha-usaha yang sudah dilakukan dan hal itu merupakan kekuatan diplomasi Indonesia.

Pujian atas penampilan Jokowi matang, juga diungkapkan para penonton acara Nobar Debat IV Pilpres yang berlangsung di The Hall, Senayan City, Jakarta. Pernyataan Jokowi mengenai Dilan atau “Digital Melayani” atau teknologi basis menunjukkan bahwa Jokowi sudah berpikir tiga langkah ke depan dibandingkan capres 02.

“Sulit jika Prabowo masih berfikir bahwa digital tidak penting. Pola pikirnya tidak sama. Sementara, Jokowi sudah berpikir soal pelayanan cepat dan digital. Saya suka pemikiran Jokowi yang ingin mengubah kultur budaya masyarakat Indonesia, terutama dalam menghadapi era digital agar Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya,” ujar Asty, relawan yang khusus datang dari Malaysia.

(JPC)

https://fajar.co.id/2019/03/31/ini-pujian-erick-thohir-untuk-jokowi-usai-debat/

POLITIK AKAL SEHAT, POLITIK KAUM MUDA (PIDATO LENGKAP SIS GRACE NATALIE DI FESTIVAL 11 PSI BANDUNG)



Berantas Pemerasan terhadap Rumah Ibadah
Juru Bicara PSI, Azmi Abu Bakar menyatakan, rumah ibadah Vihara dan Klenteng/Bio seringkali mengalami beragam modus pemerasan. Hal ini ia temukan setelah mengunjungi sejumlah rumah ibadah tersebut bersama tim dari Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang ia dirikan.

Azmi menilai, hal ini terjadi akibat residu diskriminasi secara sistematis dan terlembaga terhadap etnis Tionghoa sejak masa Orde Baru melalui Inpres No 14 Tahun 1967. Selain membatasi budaya etnis Tionghoa, inpres tersebut juga membatasi kebebasan beragama yang berdampak pada eksistensi rumah ibadah mereka. Akibatnya, meskipun Vihara dan Klenteng/Bio bukanlah rumah ibadah khusus bagi etnis Tionghoa, namun turut mendapat beragam modus pemerasan karena memang mereka (Etnis Tionghoa) sebagian besar menjadi jamaah rumah ibadah tersebut


“Ini terjadi akibat residu diskriminasi yang sistematis dan terlembaga sejak masa orba melalui Inpres No 14 tahun 1967. Meskipun Vihara dan Klenteng/Bio bukanlah rumah ibadah khusus bagi etnis Tionghoa, namun turut mendapat beragam modus pemerasan karena memang mereka (Etnis Tionghoa) sebagian besar menjadi jamaah rumah ibadah tersebut,” kata Azmi dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/3).

Azmi mengatakan, modus para pelaku pemerasan, baik atas nama masyarakat atau organisasi, adalah melalui berbagai proposal kegiatan, menjual buku dan kalender tahunan, bahkan ada yang secara terang-terangan memaksa minta bantuan keuangan dengan ancaman. Para pelaku, lanjut Azmi, menganggap jamaah Etnis Tionghoa adalah ‘gudang uang’ dan pantas diperlakukan demikian. Hal ini diperkuat oleh stigma terhadap Etnis Tionghoa yang terbentuk sejak lama.


“Modusnya, baik atas nama masyarakat atau organisasi, adalah melalui berbagai proposal kegiatan, menjual buku dan kalender tahunan, bahkan ada yang secara terang-terangan memaksa minta bantuan keuangan dengan ancaman. Para pelaku menganggap jamaah Etnis Tionghoa adalah ‘gudang uang’ dan pantas diperlakukan secara demikian. Hal ini diperkuat oleh stigma terhadap Etnis Tionghoa yang terbentuk sejak lama,” jelas Azmi yang merupakan Caleg DPR RI dapil Banten III.

Untuk itu, Azmi menyatakan, jika terpilih sebagai Anggota DPR RI, ia akan memberantas berbagai modus pemerasan terhadap rumah ibadah yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini. Bagi Azmi, membiarkan modus pemerasan ini terus berlangsung sama saja dengan memelihara praktik ketidakadilan dan diskriminasi di bumi Indonesia.


“Memberantas berbagai modus pemerasan terhadap rumah ibadah yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini adalah salah satu agenda saya. Kalau ini dibiarkan terus berlangsung, sama saja dengan memelihara praktik ketidakadilan dan diskriminasi di bumi Indonesia,” pungkas salah satu caleg terbaik pilihan majalah TEMPO ini.

Source : https://psi.id/


Jakarta - Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta, Bestari Barus, kecewa berat dengan keputusan terbaru soal tarif MRT. Bestari mengatakan batalnya tarif maksimum MRT Rp 8.500 mengkhianati hasil rapat yang digelar sebelumnya.

"Saya kira begini, kesepakatan kemarin itu Rp 8.500 dari ujung ke ujung. Jadi yang hari ini, yang berkembang berbeda, saya kira itu adalah pengkhianatan terhadap hasil rapat kemarin. Itu tidak dapat ditolerir karena Rp 8.500 itu dari pikiran kita dan itu sudah dari ujung ke ujung. Tiba-tiba diganti dengan ada maksimal Rp 14.000 lah. Maksimum itu sudah Rp 8.500," kata Bestari saat dihubungi, Selasa (26/3/2019) malam.



Bestari heran dengan timbulnya nominal tarif yang melebihi Rp 8.500. Menurutnya, perubahan hanya bisa dilakukan jika digelarnya kembali Rapimgab DPRD DKI Jakarta. Terlebih nominal Rp 8.500 hasil rapat sudah diumumkan ke publik.

"Ya, karena itu sudah di-publish kepada rakyat. Tiba-tiba diubah. Yang boleh mengubah itu hanya rapat yang sama. Jadi itu dilakukan secara tidak bertanggung jawab menurut saya. Dan kami, kami fraksi NasDem tidak pernah memberi kewenangan kepada pimpinan dewan untuk mengubah itu," ungkapnya.



Bestari mengatakan MRT ada di Jakarta untuk menyelesaikan masalah kemacetan. Selama ini yang kerap membuat kemacetan, menurut Bestari, adalah warga yang punya kemampuan ekonomi cukup karena membawa kendaraan pribadi.

Dia mengatakan jika tarif MRT tetap tinggi, maka yang bisa memanfaatkan hanya kalangan mampu. Pada poin ini, Bestari menyinggung janji kampanye Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan: Maju Kotanya, Bahagia Warganya.

"Ini (tarif Rp 8.500) adalah implementasi dari janji-janji kampanye dahulu yang kita back up sebetulnya Pak Gubernur, ingin membahagiakan rakyat Jakarta? Atau sekarang sudah berganti janjinya hanya ingin membahagiakan rakyat Jakarta yang mampu saja?" tuturnya.

Bestari tak sepakat bila tarif MRT Rp 8.500 ditentukan karena terkait 17 April atau hari pemungutan suara Pemilu 2019. Dia mengatakan tarif tersebut ditentukan tanpa ada kaitan dengan politik.

Dia juga menegaskan penentuan tarif ini tak ada kaitan dengan kepentingan Presiden Joko Widodo yang tengah berkontestasi di Pilpres. Bestari mengatakan tarif MRT ditentukan dengan mempertimbangkan rakyat bawah.

"NasDem tak melihat ini dengan kampanye atau pemilu. Tapi kita sedang mengapresiasi dengan apa yang dicita-citakan gubernur: Maju Kotanya, Bahagia Warganya. Warganya sudah bahagia dengan Rp 8.000 kemudian dibuat tidak bahagia lagi. Bagaimana coba?" kata dia.

"Saya melihat inkonsistensi yang kemudian mengarahkan ini ke pemilu dan mengarahkan ini ke kepentingan Presiden. Nggak ada itu. Ini murni kita berpikir untuk rakyat. Jadi jangan keseleo lidah mulu Pak Gubernur," ucap dia.

Sebelumnya, Anies pagi tadi berbicara soal penetapan tarif MRT oleh DPRD DKI. Anies berharap keputusan penetapan tarif MRT tidak dilatarbelakangi urusan pemilu.

"Karena itu harga yang ditentukan hari ini akan menentukan harga puluhan tahun ke depan. Sekali ditetapkan, maka dia akan menjadi rujukan untuk waktu yang sangat panjang. Karena itu, jangan menentukan harga mikir 17 April (hari Pemilu 2019), jangan. Jangan menentukan harga mikir kepuasan hari ini," ujar Anies kepada wartawan di kantor Wali Kota Jakarta Barat, Jalan Kembangan Raya, Selasa (26/3).
(jbr/aan)

https://news.detik.com/berita/d-4484933/soal-tarif-mrt-mikir-17-april-nasdem-pertanyakan-janji-kampanye-anies





Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sangat mengapresiasi seruan moral bagi umat Katolik di Indonesia terkait Pemilu 2019 yang dikeluarkan Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia ( KWI).
“Seruan tersebut amat mencerahkan dan bermanfaat sebagai panduan bagi umat Katolik dalam menghadapi Pemilu 2019,” kata Caleg DPR RI PSI dari Dapil Jawa Barat III (Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor), Suci Mayang Sari, dalam keterangan pers, Sabtu 2 Maret 2019.
Pada seruan tersebut, KWI meyakini politik itu pada dasarnya baik karena merupakan sarana mewujudkan kesejahteraan bersama. Politik dalam dirinya sendiri mengandung nilai-nilai luhur seperti pelayanan, pengabdian, pengorbanan, keadilan, kejujuran, ketulusan, solidaritas, kebebasan, dan tanggung jawab.
“Prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai PSI. Kami berpolitik dipicu kesadaran bahwa politik adalah tugas mulia untuk mewujudkan kebahagiaan bagi semua orang, bukan demi pencapaian kekuasaan semata,” kata Mayang yang juga Bendahara Umum DPP PSI.


KWi melanjutkan, dunia politik harus diisi orang-orang yang mempunyai kapasitas, loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mengemban jabatan serta menggunakan kekuasaan.
“Di PSI, kami secara serius mengejar kualitas calon legislatif semacam itu dengan menggelar seleksi secara terbuka, dengan melibatkan para panelis independen, tidak ada lagi praktik “beli kucing dalam karung” seperti yang terjadi di partai-partai lain,” lanjut Mayang.
Seruan untuk tidak golput pun layak diapresiasi. Mayang menegaskan, mustahil mendapat kandidat, presiden atau calon legislatif, yang tanpa cacat. Pasti ada saja kekurangannya.
“Ketika hak pilih tidak digunakan, sebenarnya kita sedang memberi jalan bagi calon yang kekurangannya paling banyak untuk melenggang ke kekuasaan. Secara ekstrem, golput membiarkan orang jahat berkuasa,” ujar Mayang.
Hal yang harus disadari, tambah Mayang, kehidupan semua warga senantiasa terkait dengan politik. Mustahil mengelak dari politik.
“Karena itu, pastikan bahwa pengemban jabatan politik adalah mereka yang kompeten, punya integritas, dan berdedikasi tinggi – seperti disampaikan KWI,” kata Mayang.
KWI juga memaparkan sejumlah hal yang harus diperhatikan warga sebagai pemilih. Salah satunya, memilih kandidat yang berani menolak segala bentuk radikalisme dan intoleransi.
“Nah, dalam soal ini, para pemilih harus cermat. Banyak kandidat atau partai yang mengaku menjunjung toleransi. Pada kenyataannya mereka diam saat, misalnya, ada rumah ibadah yang ditutup dengan paksa. Berbeda dengan PSI yang konsisten, tak ada beda antara ucapan dan perbuatan,” pungkas aktivis 98 ini.

Source : https://psi.id/berita/2019/03/02/seruan-moral-kwi-mencerahkan-dan-layak-jadi-panduan/

Popular Post

Contact

Powered by Kristian Thomas.